Pencarian

Memuat...

Sabtu, 08 Juni 2013

Makna dari puisi Malam Lebaran karya Sitor Situmorang

MALAM LEBARAN

Bulan di atas kuburan

-Sitor Situmorang-

Pada karya puisi Sitor Situmorang di atas, secara citraan suasana (citraan tersurat),  kalau merujuk pada judul "MALAM LEBARAN", saya mencermatinya pada saat mana puisi ini ditulis pengkarya cipta menangkap momen suasana di malam lebaran yang setiap tahun dirayakan umat muslim (kita kerucutkan di suasana malam lebaran di Indonesia tempat dimana penyair dilahirkan) yang langsung judul merupakan pemandu masuk ke citraan latar suasana (tersurat) pada isi yang hanya satu baris "Bulan di atas kuburan", namun di baris isi ini saya menangkap ada dua citraan yang ingin diciptakan di rasa imaji piker penikmat baca, yakni citraan secara latar suasana dan citraan secara perlambangan, dimana kata “bulan” secara citraan latar suasana tersurat pastinya akan menjadi absurd (tidak masuk akal) saat pembacaan judul “MALAM LEBARAN” sampai pada kata/diksi “Bulan”, jika mengacu pada makna harafiah “Bulan” berdasarkan KBBI;bu·lan n 1 benda langit yang mengitari bumi, bersinar pada malam hari karena pantulan sinar matahari, sedangkan pada malam lebaran bulan tentunya belumlah mengada/muncul. Namun citraan latar suasana itu akan kembali tampak, manakala kita teruskan pembacaan  pada kata selanjutnya…. di atas kuburan”, disinilah saya menangkap adanya citraan latar suasana yang ingin dicitrakan secara tersurat pada pembaca, yakni latar suasana pekuburan (baca: kuburan), sedangkan diksi “bulan” pada baris ini mengada sebagai akibat yang dibebankan pada kata “bulan” atas muatan tema yang begitu besar yang ingin dilesatkan ke penghayat oleh penyair dari keseluruhan batang tubuh puisi secara utuh, sedang ruang kata pada puisi pendek ini sangat sempit untuk menjabarkan hal tersebut secara bersamaan antara citraan latar suasana yang sesungguhnya dengan citraan makna yang ingin disiratkan melalui bahasa kias/perlambang, sehingga dalam pemikiran saya selaku penghayat, diksi “bulan” dipilih sebagai bahasa semiotik (perlambang/kias)untuk menopang citraan latar suasana “malam lebaran” dan suatu tempat yang bernama “kuburan”. Jadi boleh dibilang kata/diksi “bulan” diadakan sebagai kias “hitam putih atau gelap terang” yang menjembatani kata “malam lebaran” yang mempunyai fungsi ganda sebagai makna harafiah “malam lebaran” itu sendiri, atau sebagai bahasa semiotik/kias. Demikian halnya dengan diksi “kuburan” yang juga berperan ganda sebagai kata yang membawa arti/makna harafiah “kuburan” yang berdasarkan KBBI; kuburan n tanah tempat menguburkan mayat; makam, atau berfungsi sebagai bahasa semiotik/kias semisal sebagai lambang dari sesuatu yang menggiriskan (menyeramkan). Dan dari empat kata kunci inilah : malam> lebaran> bulan > kuburan, penyair berharap nantinya penghayat minimal bisa menarik nilai-nilai kerohanian melalui jalan berkontemplasi.

Seperti pernah saya tulis pada salah satu esai saya, bahwa“puisi” sebagai rainkarnasi bahasa hati, pikiran ( samsara bahasa ) dari masing-masing pribadi/individu pengkarya cipta yang dituangkan ke dalam bentuk bahasa tulis pun lisan yang pada akhirnya menciptakan letupan-letupan imajinatip di alam imajinasi pengkarya cipta itu sendiri maupun penikmat baca/apresiator puisi. Di mana muatan emosi “puisi” sangat beragam, ada suka ada duka, ada kegembiraan ada kemarahan. Dan puisi sebagai pengejawantahan atau perwujudan bahasa, mentranslate rasa/gejolak jiwa, melalui selubung syimbol-syimbol, atau tanda-tanda yang terangkum pada larik/baris/bait dalam menyampaikan pesan gejolak rasa jiwa dari penulis/penyair, yang merupakan hasil dari saripati sunyi (baca: perenungan!).

Bisa saja karya puisi terlahir dari suatu pengamatan atas objek yang ditangkap oleh indera mata, atau sesuatu yang didengar, dihirup, ect, oleh indera perasa lainnya yang dimiliki insan manusia. Atau bisa juga karya puisi lahir bukan dari hasil tangkapan idera pada saat itu, namun lahir akibat munculnya suatu pemikiran-pemikiran baru atas apa yang dia rasakan, sehingga muncul objek-objek yang dirasa mampu sebagai penyampai pesan rasa imaji piker pengkarya cipta/penyair pada penikmat baca/penghayat melalui bahasa-bahasa kias/semiotik.

Secara langsung saya tidak tahu proses awal yang melatar belakangi Sitor Situmorang pada puisi pendek bertajuk “MALAM LEBARAN”, walau dibeberapa artikel yang pernah saya baca disebutkan bahwa terlahirnya puisi ini dikarenakan pada suatu malam Sitor Situmorang pergi berjalan kaki ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Ternyata Pram saat itu sedang tidak berada di rumah. Lantas, ia pun pulang, berjalan kaki. Di saat pulang malam itu Sitor tersesat, dan dalam ketersesatannya ia melihat sebuah tembok putih. Karena penasaran apa yang ada di balik tembok itu? Maka, ia pun lantas naik di atas batu di dekat tembok, dan melongok, ternyata yang ada di balik tembok tersebut adalah kuburan. Dan pengalaman ini sangat membekas di pikiran Sitor Situmorang.

Dan karena saya tidak mendengar sendiri dari Sitor Situmorang (Bagaimana mau mendengar sendiri dari beliau, lha kenal saja tidak hehe), terpaksa saya mesti abaikan dulu cerita artikel tadi dalam upaya saya untuk memungut makna yang tersirat dari keseluruhan batang tubuh puisi melalui pemecahan kode bahasa, atau melalui suatu proses pendekatan secara semantik struktural (pendekatan pada semantik yang menekankan hubungan makna antara kata dan kelompok kata).

Dalam ketidaktahuan saya apa yang melatar belakangi lahirnya puisi satu baris Sitor Situmorang ini, melalui bahasa teks puisi “//MALAM LEBARAN/Bulan di atas kuburan//, saya selaku penikmat baca/penghayat menangkap empat kata yang bisa saya jadikan kunci untuk menarik makna keluar dari kedalaman ceruk bahasa puisi.

Dan ke empat kata yang saya maksud itu adalah malam lebaran> bulan > kuburan, yang bisa jadi salah satu dan atau bahkan keseluruhan kata tersebutlah yang mengada dan kemudian menginspirasi Sitor Situmorang melahirkan puisi pendek yang fonumenal.

Pada ketidaktahuan saya mengenai proses awal lahirnya puisi ini, mengapa saya mengambil kata “malam lebaran” yang merupakan judul puisi pendek termaksud sebagai suatu kemungkinan awal lahirnya diksi-diksi lain seperti “bulan” dan “kuburan”? Atau bisa jadi saya mengawalinya dari kata “bulan” dan kata“kuburan” sebagai suatu kemungkinan awal lahirnya judul “malam lebaran” untuk memberi dorongan kuat dalam meletupkan citraan imaji serta daya hisap kontemplasi di alam rasa piker penikmat baca/penghayat?

Memang segala kemungkinan tersebut bisa saja saya ambil untuk memulai menelisik makna atau pesan apa yang sebenarnya tersembunyi disebalik rangkaian kata puisi termaksud. Namun sebelum saya mengambil salah satu dari sekian kemungkinan tadi, saya ingat bahwa untuk mendapatkan suatu pemaknaan/pesan yang begitu besar pada sebuah karya sastra seni puisi, tidaklah bijak rasanya kalau saya hanya memaknainya secara kata perkata saja, tapi saya rasa perlu juga untuk memaknainya secara semantik struktural (pendekatan pada semantik yang menekankan hubungan makna antara kata dan kelompok kata).

Saat saya untuk kesekian kalinya membaca puisi pendek ini secara pelan, serta mulai menghayati makna kata per kata, juga makna yang ditimbulkan oleh adanya pertautan kata satu dengan kata yang lainnya dalam suatu ikatan utuh batang tubuh puisi : “//MALAM LEBARAN/Bulan di atas kuburan//, saya mencoba memaknai dulu puisi ini secara citraan latar suasana, tentunya melalui pendekatan semantik(ilmu tentang makna kata dan kalimat; pengetahuan mengenai seluk-beluk dan pergeseran arti kata) dan pendekatan secara semantik struktural (pendekatan pada semantik yang menekankan hubungan makna antara kata dan kelompok kata).

Secara semantik (makna kata dan kalimat), kata/kalimat “malam lebaran” yang menjadi judul dari puisi pendek Sitor Situmorang ini; waktu malam sehari sebelum hari lebaran, dimana kata “Lebaran” itu sendiri secara harafiah makna berkaitan dengan hari raya umat Islam yang jatuh pada tgl 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idulfitri.

Sedang pada puisi ini penyair memilih diksi “bulan” yang disusun letakkan pada awal baris isi, yang karena kerapatannya dengan judul, menimbulkan suatu opini atas pembacaan puisi ini oleh beberapa pemerhati sasrtra puisi, sebagai citraan latar suasana yang tidak logis (absurds) dengan pemilihan diksi “bulan”yang secara rapat bertaut dengan kalimat pada judul “MALAM LEBARAN”. Sebab pada saat itu (malam lebaran) pastinya bulan masih belum muncul, jadi sangat janggal secara citraan teks puisi Sitor Situmorang ini yang secara tegas menulis pada teks puisinya tersebut: / MALAM LEBARAN / bulan di atas kuburan/ ; “pada saat malam lebaran ada bulan di atas kuburan”. Absurds? Ngawur? Atau Sitor Situmorang telah terjebak dengan bahasa Imajinatipnya?

Menurut subyektif piker saya, rasanya terlalu prematur kita menyimpulkan seperti itu. Seperti yang telah saya utarakan pada awal esai ini “….sedangkan diksi “bulan” pada baris ini mengada sebagai akibat yang dibebankan pada kata “bulan” atas muatan tema yang begitu besar yang ingin dilesatkan ke penghayat oleh penyair dari keseluruhan batang tubuh puisi secara utuh, sedang ruang kata pada puisi pendek ini sangat sempit untuk menjabarkan hal tersebut secara bersamaan antara citraan latar suasana yang sesungguhnya dengan citraan makna yang ingin disiratkan melalui bahasa kias/perlambang, sehingga dalam pemikiran saya selaku penghayat, diksi “bulan” dipilih sebagai bahasa semiotik (perlambang/kias) untuk menopang citraan latar suasana “malam lebaran” dan suatu tempat yang bernama “kuburan”. Jadi boleh dibilang kata/diksi “bulan” diadakan sebagai kias “hitam putih atau gelap terang” yang menjembatani kata “malam lebaran” yang mempunyai funsi ganda sebagai makna harafiah “malam lebaran” itu sendiri, atau sebagaibahasa semiotik/kias”.

Secara semantik, ”bu·lan” bisa berarti benda langit yang mengitari bumi, bersinar pada malam hari karena pantulan sinar matahari. Namun ”bu·lan” juga mempunyai makna kata/kalimat sebagai penunjuk adanya satu waktu penting dari rentang waktu selama 12 bulan (satu tahun).

Dari kajian secara semantik pada kata “bulan” ini, saya mengambil suatu kesimpulan, ”bu·lan” yang berarti/bermakna benda langit pada pengertian pertama dipakai sebagai semiotik puitika (bahasa lambing/kias), dan ”bu·lan” yang bermakna kata/kalimat sebagai penunjuk waktu dipakai untuk memberikan citraan latar suasana secara teks tersurat.

Sedangkan “di atas” yang diselipkan antara “bulan” dan  “kuburan” merupakan suatu kalimat yang akan mempunyai kekuatan arti/maksud jika disertai/menyertai kalimat/diksi lainnya.

Kemudian pada susunan kata berikutnya pada baris isi yang hanya satu larik tersebut, kenapa justru yang dipilih diksi “kuburan”, bukan “pekuburan”? saya rasa ini terkait dengan pemaknaan besar secara pysicologis personal yang ingin disiratkan melalui satu kesatuan rekatan utuh antar kata dan kelompok kata dalam bahasa perlambang pada batang tubuh puisi keseluruhan.

“kuburan ; tanah tempat menguburkan mayat; makam, dalam pengertian mempunyai makna yang lebih mengerucut

“pekuburan;  tempat yang luas yang khusus digunakan untuk menguburkan mayat; tanah pemakama, dalam pengertian mempunyai makna yang lebih luas

Dari pendekatan semantik di atas, rasa imaji piker saya selaku penikmat baca/penghayat, menangkap puisi Sitor Situmorang ini, secara tersurat (citraan makna atas teks puisi):


Tidak ada komentar: